Sebuah Seni ber-HEMAT.

Utas dari akun Twitter @WarungKopiKita di atas memang sangat bangus untuk menggelitik pandangan seseorang tentang makna hemat.

Jikalau diambil dari KBBI, kata hemat memiliki arti berhati-hati dalam membelanjakan uang, dan sebagainya; tidak boros; cermat.

Seperti yang disampaikan pada utas bahwa poin hemat adalah “sikap kehati-hatian” bukan “bersikap paling sedikit mengeluarkan uang”.

Hemat Banding Murah

Semenjak dibuat kapok saat membeli barang, saya pernah merenung untuk menekankan

“lebih baik keluar Rp 10.000 daripada keluar Rp 7.000 tapi sekedar lewat saja.”

Secara nilai, Rp 7.000 memang lebih kecil daripada Rp 10.000. Tapi ketika dihubungkan dengan keandalan dan kualitas tentunya sebuah nilai akan linier dengan kedua hal tersebut.

Pada utas sebelumnya dicontohkan dengan pembelian earphone.

Banyak yang membagikan pengalaman membeli earphone degan harga dibawah Rp 50.000 namun rusak dengan jangka pemakaian kurang dari 1 bulan.

Memang tidak bisa dipukul rata kerusakan tersebut karena cacat produk atau karena cara penggunaan.

Tapi yang menjadi fakta adalah build quality pasti berbeda antara produk ekonomis, produk kelas menengah dan begitu pula dengan produk kelas atas.

Studi Kasus

Misalkan saya adalah tipe orang yang menggunakan barang sesuka hati. Kemudian saya membelanjakan uang sebesar Rp 20.000 untuk membeli earphone A.

Kemudian saya tidak sengaja menarik kabel yang kusut sehingga tembaga kabel tersebut putus dan salah satu earphone mati.

Dengan berat hati saya membeli earphone B yang lebih mahal, yaitu seharga Rp 100.000. Tanpa saya sadari earphone baru tersebut ketika kusut lebih mudah terurai dan ketika kabelnya tertarik dengan keras beberapa kali earphone tetap bekerja dengan baik.

Sedangkan secara kualitas suara earphone A hanya mengandalkan bass tanpa ada detail dan separasi suara yang bagus. Pada earphone B walaupun belum bisa dibilang bagus setidaknya sudah bisa medengarkan komposisi bass dan trebel yang lebih seimbang.

Sehingga pada studi kasus ini ada beberapa poin yang dapat dipetik:

  • Earphone B lebih kuat daripada earphone A secara fisik
  • Dengan penggunaan yang sembarang, bisa saja saya membeli earphone A 3 kali berturut-turut bahkan lebih karena selalu putus kabelnya
  • Earphone B memiliki nilai tambah: kabel lebih mudah terurai ketika kusut
  • Saya tidak perlu membuang waktu untuk membeli earphone karena earphone B memiliki keandalan yang bagus
  • Sebanyak apapun saya membeli earphone A tidak akan pernah mendengarkan suara yang lebih baik dibandingkan erphone B

Sedangkan pandangan lain yang saya yakini adalah

“membeli harus mendapatkan rasa aman dan nilai yang sepadan.”

Itu adalah opini saya. Misalkan saya membeli sebuah komponen komputer, sebut saja PSU.

Dengan kompetisi yang ketat tentu akan sulit untuk memilih produk PSU yang pas dengan kantong ataupun keinginan.

Namun dengan adanya review dan panduan pembeli saya merasa tertolong. Sehingga saya memutuskan untuk mengambil barang dengan selisih harga Rp 500.000 lebih mahal namun mendapatkan garansi 2 kali lipat lebih lama dengan feedback positif.

Walaupun pilihan lainnya memiliki opsi fitur yang lebih tinggi secara efisiensi namun hanya memiliki garansi selama 5 tahun.

Mengapa begitu?

Karena bagi saya mengeluarkan Rp 500.000 untuk rasa aman 10 tahun itu terbilang murah. Tentunya dengan modal tersebut kita juga tidak kehilangan keseluruhan uang yang kita belanjakan ketika barang tersebut rusak.

Sedangkan tingkat efisiensi tersebut tidak akan saya rasakan secara langsung karena mungkin hanya memberikan perbedaan 2% pada konsumsi daya dan nilai 2% tersebut biasanya harus pada beban tertentu, tidak konstan.

Jadi, coba telaah ulang bagaimana kalian mempertimbangkan suatu harga dan pilihan ketika membeli. Apakah hanya melihat dari nominal? Atau juga mempertimbangkan risiko dan manfaat lain?

Dilema: Atau Beli Bekas?

Terkadang saya memang memilih untuk membeli barang bekas. Tentunya harus beralasan logis,tidak hanya berpatokan pada harga yang lebih murah.

Sayangnya membeli barang bekas butuh banyak pertimbangan bahkan hal yang diluar kontrol kita, misalnya:

  • Kondisi barang
  • Garansi
  • Harga yang tidak terpaut jauh dari harga baru
  • Kejujuran penjual
  • Keberuntungan

Untuk mengatasi hal diatas saya pribadi membuthkan beberapa keahlian, yaitu keahlian menilai dan keahlian legowo.

Keahlian menilai dimana kita mempertimbangkan untung rugi juga termasuk dengan keyakinan terhadap yang diucapkan oleh penjual.

Ironi memang, tapi faktanya jaman sekarang jangan percaya hanya karena “katanya”.

Jangan berharap kepada manusia.

Setelah kita yakin untuk membeli barang bekas, pastikan kita legowo terhadap apa yang akan terjadi kedepannya.

Karena bisa saja barang rusak setelah masa garansi personal habis. Bahkan bisa juga ketika barang bermasalah si penjual tidak mau bertanggung jawab walaupun ada akad garansi personal.

Tetapi ketika semua berjalan dengan lancar jangan lupa untuk bersyukur.

Dari saya, ngirit itu sah-sah saja. Tapi jangan sampai sifat ngirit menjerumuskan kepada pemborosan yang tidak disadari karena pembelian berulang.

Niat hemat cari untung malah buntung.

Jangan lupa ngeteh bareng kue kesukaanmu, ya!?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini